64. AL QOYYUM (Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri) Didalam memutuskan segala sesuatu, Allah Ta’ala tidak perlu bermusyawarah kepada siapapun. Karena hak memutuskan segala sesuatu ada ditangan-Nya. Jadi siapa-siapa yang akan diampuni dan siapa-siapa yang akan diazab adalah keputusan mutlaq Allah Ta’ala. Sehingga apabila Dia telah memutuskan seseorang masuk kedalam neraka, maka tidak ada satupun yang bisa merubahnya. Begitu juga sebaliknya apabila Dia telah memutuskan seseorang masuk syurga, maka tidak ada satupun yang bisa merubahnya. Bagi orang-orang yang memiliki setitik iman, akan mendapat kebebasan dari neraka setelah urusan-urusan dosa dan kesalahan mereka terbalaskan. Keputusan yang demikian ini tidak ada yang dapat mempengaruhi, karena Allah Maha Berdiri Sendiri dan keputusan-Nya ini mutlaq. Yaitu Dia akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa, muslim sampai mukhlis, tetapi bagi orang yang masih beriman saja akan disiksa terlebih dahulu dineraka sampai semua dosa-dosanya terbalas. Oleh sebab itu yang perlu kita upayakan dalam hidup ini adalah minimal harus termasuk orang yang bertaqwa. Sehingga tidak perlu disiksa terlebih dahulu dineraka. Akan tetapi tidaklah mungkin taqwa bisa tercapai sebelum beriman terlebih dahulu, karena ketaqwaan tanpa didasari keimanan tidak ada guna sedikitpun. Diibaratkan seperti seseorang yang akan melamar kerja disuatu perusahaan. Terlebih dahulu ia harus memenuhi syarat-syarat agar diterima bekerja diperusahaan tersebut. Dan setelah diterima sebagai karyawan, maka perusahan akan menuntut kewajiban-kewajiban yang harus ia kerjakan, sehingga apabila ia mau memenuhi kewajiban tersebut, maka ia akan mendapatkan gaji. Akan tetapi ada orang yang tidak terdaftar sebagai karyawan karena tidak mau melamar, maka tidak akan pernah mendapatkan gaji walaupun setiap hari ia bekerja diperusahaan tersebut. Orang seperti ini sama halnya dengan orang yang melakukan ketaqwan tanpa didasari dengan keimanan terlebih dahulu. Akan tetapi bagi orang yang sudah terdaftar sebagai karyawan diperusahaan tersebut, tetapi tidak melakukan kewajiban-kewajiban, maka ia akan mendapatkan gaji cuma dipotong. Ini adalah contoh orang beriman yang tidak mau bertaqwa. Iman itu harus dengan izin Allah, sama halnya dengan perusahaan tersebut yang menentukan apakah kita diterima atau tidak. Begitupun juga dengan iman, harus dengan usaha yang sungguh-sungguh, dengan melewati berbagai macam ujian. Tanpa dengan upaya maka tidak akan mungkin menjadi orang yang beriman. Akan tetapi kenyataannya kita selalu mengusahakan sesuatu yang sudah ditentukan oleh Allah, sedangkan kita lupa dengan keimanan. Padahal iman itulah yang bisa menyelamatkan kita. Yang berhak mengatakan seseorang itu beriman atau kafir hanya Allah, karena hanya Dia yang berhak memberikan izin. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita meremehkan atau menghina orang lain dan jangan sekali-kali kita merasa aman dengan adanya iman yang sedikit. Karena sedetik saja iman bisa lepas. Oleh sebab itu waspadalah dan jangan sekali-kali merasa aman. Sebagai contohnya seseorang yang merasa doanya tidak didengar oleh Allah, maka pada saat itu dia tidak beriman. Mempunyai masalah bingung bagaimana menyelesaikannya dan tidak mau menyerahkan kepada Allah, maka pada saat itu ia tidak beriman. Orang yang takut tidak makan, juga termasuk orang yang tidak beriman. Ciri-ciri yang lain bagi orang yang tidak beriman adalah selalu mengeluh dan tidak mau bersyukur, padahal apapun yang Allah berikan itu adalah yang terbaik bagi hambaNya. Bismillahirrahmaanirrahiim mengandung 4 unsur : 1. Taubat : Karena kasih sayang Allah kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. 2. Sabar : Kita diberi-Nya balak, sakit, permasalahan, dan lain sebagainya, semua itu adalah karena kasih sayang-Nya. Karena dengan itu Allah ingin mengampuni dosa-dosa kita yang belum sempat kita mohonkan ampun. Oleh sebab itu kita harus bersabar. 3. Bersyukur : Karena kasih sayang Allah Ta’ala, segala kebutuhan hidup kita dicukupi-Nya. Maka dari itu selalulah bersyukur kepadaNya. 4. Tawakkal : Karena kasih sayangNya kita selalu dipilihkan yang terbaik, karena kita tidak tahu hakikat dibelakang setiap kejadian. Oleh sebab itu sikap kita harus bertawakkal dan selalu menerima denga ridho apapun ketentuan Allah Ta’ala. Inilah beberapa sikap yang harus kita lakukan agar tidak pernah berburuk sangka kepada Allah. Keempat hal diatas juga sebagai jalan untuk menjaga keimanan kita agar tidak sampai lepas. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita goyah dalam menjalankan perintah-perintah Allah Ta'ala, karena takut kepada manusia? dan seberapa banyak hati kita mantap didalam melakukan kebenaran Allah Ta'ala, dan tidak takut dengan penilaian manusia? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang selalu bersandar pada kebenaran-Mu yaitu Al Qur’an, serta mengikuti sunnah Rasul-Mu, karena sesungguhnya kebanaran itu adalah milik-Mu. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa apabila Allah Ta'ala telah memutuskan dirinya masuk syurga, maka tidak ada satupun yang bisa merubahnya. Begitu juga sebaliknya apabila Allah Ta'ala memutuskan dirinya masuk neraka, maka tidak ada satupun yang bisa merubahnya. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia didalam melakukan apapun yang penting dimata Allah Ta'ala benar. Walaupun semua orang mengatakan salah, sedikitpun tidak mempengaruhinya. Karena hanya Allah Ta'ala yang berhak memutuskan dan tidak ada satupun yang bisa merubah keputusan-Nya. Dia selalu berdiri dengan kebenaran Allah Ta'ala dan cukuplah Allah Ta'ala sebagai penilai dirinya. Dia tidak perduli dengan pendapat manusia. Sedangkan untuk mengetahui jalan yang benar (lurus), Allah Ta'ala telah menurunkan petujuk-Nya yaitu Al Qur’an dan menurunkan teladan RasulNya yaitu Al Hadits. Oleh sebab itu Dia didalam hidupnya selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Al Hadits. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami selalu bersandar pada firman-firmanMu dan sunnah Rasul-Mu. Dan janganlah Engkau jadikan kami takut kepada penilaian manusia. F. Sikap Orang Bertawakkal Didalam hidup ini yang penting dia telah mengikuti kebenaran Allah Ta'ala, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Setelah itu dia berserah diri kepada Allah Ta'ala. Biarlah Allah Ta'ala yang memutuskan apakah dia benar atau salah. Karena hak memutuskan ada ditangan Allah Ta'ala, sehingga dia tidak perduli dengan penilaian manusia. G. Sikap Orang Mukhlis Setelah dia menjalankan kebenaran Al Qur’an dan Al Hadits, maka didalam kehidupan ini dia akan memperoleh tantangan-tantangan dari orang-orang yang tidak beriman. Akan tetapi semua itu dia terima dengan ikhlas. Bahkan dia sangat senang, karena apapun yang dia alami itu dia bisa membuktikan keimanannya kepada Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Qoyyum Apabila ia telah menjadi kholifah, maka dalam hidupnya ia tidak pernah mencari kebenaran lain kecuali kebenaran Allah Ta’ala. Ia tidak peduli kebenaran berdasarkan kebenaran orang lain. Biarpun semua manusia menganggap dirinya salah dan sesat, yang penting Allah Ta'ala mengakuinya bahwa dirinya adalah orang yang benar. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Qoyyum Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengingatkan manusia agar mereka tidak takut kepada penilian manusia didalam melaksanakan kebenaran yang telah Engkau turunkan berupa Al Qur’an dan sunnah Rasul-Mu. Agar manusia dapat mengetahui bahwasannya hanyalah kebenaran-Mu yang dapat menyelamatkan mereka diakhirat kelak.